rangkuman sintong panjaitan

Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando

Sintong lahir di Tarutung 4 September 1940 dengan nama lengkap Sintong Hamonangan Panjaitan. Ia berkeinginan menjadi tentara sejak usia 7 tahun, ia berminat menjadi penerbang pesawat tempur karena rumahnya dekat dengan tangsi tentara RI yang hancur karena belanda menjatuhkan bom dari pesawat AU kerajaan Belanda.
Sejak dibangku SMA sintong sudah berpengalaman menggunakan senjata.saat terjadi pemberontakan PRRI di Sumatera Sintong telah dilatih kemiliterannamun ia tidak ikut bertempur karena harus menunggu ayahnya yang sakit dan kemudian meninggal.
Akhir 1959 Sintong mendaftar AAU dan ia dinyatakan harus melakukan operasi amandel. Surat pemanggilan sebenarnya sudah datang namun disembunyikan ibunya, sambil menunggu Sintong mendaftar Akademi Militer Nasional dan dinyatakan lulus lalu langsung mengikuti pendidikan di Magelang.
Alumni AMN angkatan Sintong ialaha perwira peralihan karena mengalami orde lama dan orde baru. Di AMN Sintong masuk kecabangan Tempur. Perintah Operasi Tempur pertama diawali pada bulan Agustus 1964 sampai bulan Februari 1965, ketika bertugas dalam Operasi Kilat di Sulawesi Selatan dan Tenggara untuk menumpas gerombolan DI/TII pimpinan eks Letkol Abdul Kahar Muzakkar dan ia menjadi komandan peleton 1, namun pada pertengahan 1965 Sintong melakukan pendidikan komando di batujajar.
Dan pada 1 oktober dini hari meletuslah G30S/PKI, padahal sebelumnya sintong akan di operasikan dalam penerjunan di malaysia dalam rangka konfrontasi ganyang malaysia. Sintong memimpin peleton 1 merebut gedung RRI pusat dari tangan pemberontak, selanjutnya Sintong ikut serta dalam gerakan tempur untuk menguasai Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah. Selain itu, Sintong juga memimpin anak buahnya melaksanakan pencarian dan menemukan jenazah para perwira tinggi AD yang diculik.
Setelah menerima kenaikan pangkat menjadi Letnan Satu Infanteri, awal Februari 1967 Sintong ditugaskan memimpin Tim Irian Barat RPKAD untuk melancarkan operasi tempur di Daerah Kepala Burung di Irian Barat
Tahun 1989 di Irian Barat dilaksanakan Act of Free Choice atau Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Markas Komando KOPASSANDHA menugaskan pasukan berkekuatan 1 Prayudha ke Irian Barat. Sintong dipanggil oleh Kapten Inf. Faisal Tandjung, Komandan Karsayudha Wibawa, untuk menjabat sebagai Komandan Prayudha 3 di Kabupaten Monokwari, daerah Kepala Burung untuk memenangkan Pepera.
Usai tugas memenangkan Pepera, Sintong tidak langsung kembali ke basis. Ia ditunjuk sebagai Perwira Operasi Tim Ekspedisi Lembah X dibawah pimpinan Kapten Inf. Faisal Tandjung, yang merupakan ekspedisi gabungan antara Stasiun NBC New York dan Kodam XVII/Cendrerawasih. Ekspedisi ini bertujuan untuk membuat dokumentasi antropologi budaya dengan film 16mm berwarna terhadap suku-suku terasing yang masih hidup bagai di zaman batu.
Akibat padatnya penugasan di berbagai medan operasi, Sintong baru menagkhiri lajangnya ketika berumur 31 tahun. Banyak diantara teman seangkatannya di AMN sudah menikah seawal umur 25 atau 26 tahun. Tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-35, Sintong mendapat perintah untuk bertugas di Intelstrat dan tak lama kemudian ia mendapat perintah untuk mengikuti SESKOAD di Bandung.
Tanggal 12 november 1991, terjadi demonstrasi yang kemudian berkembang menjadi kerusuhan. Ketika itu, Mayjen TNI Sintong Panjaitan sedang menghadiri rapat operasi dan latihan di AKMIL Magelang. Disana Sintong sudah direncanakan akan dimutasi menjadi Asisten 2/Operasi Panglima ABRI untuk memberikannya pengalaman bertugas di Markas Besar ABRI. Bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dipihak demonstran. Sehubungan dengan peristiwa itu, Sintong dicopot dari jabatannya sealku Pangdam IX/Udayana. Padahal, Sintong tidak melakukan kesalahan prosedur, kesalahan strategis, maupun kesalahan taktis.




Buku ini menarik bagi para penggemar cerita militer dan kontroversi yang melingkupi para Jenderal
Bagi para penggemar buku militer dan kisah-kisah TNI, buku Sintong Panjaitan ini cukup menarik untuk dibaca.  membingungkan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah dari orang-orang yang berperan pada masa kritis Mei 1998.
Pandangan saya mengenai buku ini adalah  adanya kesan memaksakan Sintong Panjaitan sebagai sosok yang paling berjasa di berbagai pertempuran. Kesan ini sebenarnya bisa ditepis jika Hendro Subroto tidak selalu menjadikan Sintong sebagai sosok nomor satu disetiap pertempuran dan memberikan tempat bagi sosok yang lain.
.


Komentar